Rabu, 03 Agustus 2011

Review Huawei MediaPad

Peperangan perangkat tablet semakin seru! Huawei baru saja mengumumkan perangkat tablet terbaru mereka, yaitu MediaPad! Perangkat ini secara resmi menjadi produk tablet pertama di dunia yang menggunakan sistem operasi Android Honeycomb 3.2. Produk ini diluncurkan secara resmi di ajang CommunicAsia yang sedang berlangsung di Singapura.

Huawei MediaPad akan menggunakan layar LCD sebesar 7 inci. Layar tersebut memiliki jenis capacitive.
Huawei MediaPad memiliki ukuran tubuh yang tidak terlalu besar. Produk ini memiliki ketebalan 10.5 mm atau 0,4 inci dan berat 390 gram. Untuk masalah prosesor, Huawei menyerahkannya kepada Qualcomm. Untuk MediaPad, Huawei menggunakan prosesor dual-core 1,2 GHz. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi dengan dua buah kamera, satu di bagian depan dan satu di bagian belakang. Di bagian belakang, Anda akan menemukan kamera dengan sensor gambar sebesar 5 megapixel dan 1.3 megapixel di bagian depannya.

Anda gemar memutar film dengan kualitas Full HD di perangkat tablet? Huawei MediaPad bisa menjadi alternatif baru bagi Anda. Perangkat ini telah dilengkapi dengan kemampuan memainkan film dengan kualitas 1080p.
Perangkat Huawei MediaPad juga dilengkapi dengan jaringan HSPA+ 14.4 Mbps. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi dengan perangkat WiFi.

Huawei MediaPad dapat hidup selama 6 jam hanya dengan bantuan baterai. Huawei mempersenjatai MediaPad dengan beberapa aplikasi menarik. Di antaranya adalah Facebook, Twitter, Let’s Golf, dan Document To Go.

MediaPad terbilang cukup berat dibandingkan tablet lain dengan ukuran serupa. Dengan ketebalan 10,5 milimeter dan berat 390 gram, MediaPad kurang nyaman untuk digunakan dalam waktu yang lama. Meski hanya menjajal dalam waktu singkat, okezone meyakini tablet ini kurang optimal dalam memenuhi fungsi mobilitas penggunanya.

Satu hal yang menjadi keunggulan MediaPad adalah kejernihan layarnya. Tidak perlu heran karena Huawei menawarkan resolusi sangat tinggi untuk MediaPad, yakni 1280x800 piksel dengan kerapatan gambar 217 ppi, yang notabene paling tinggi diantara semua tablet mainstream lain. Sebelum MediaPad, tablet Motorola Xoom ditahbiskan sebagai tablet dengan kepadatan piksel tertinggi yakni 160ppi.

Keistimewaan MediaPad, tentu saja adalah sistem operasinya yang sudah mengusung versi Android teranyar, yakni Honeycomb 3.2. Huawei mengklaim OS terbaru dari Google ini memang dioptimalkan untuk tablet berukuran 7 inci, tidak seperti versi 3.0 yang mendukung tablet 10 inci. Saat menjajalnya, layar sentuh MediaPad terasa kurang responsif, apalagi ketika melakukan swipe untuk beralih dari layar menu satu ke layar menu lainnya.

Hal serupa juga dirasakan ketika merekam video dengan kamera 5 megapikselnya. Kendati memiliki ketajaman gambar memuaskan, namun capture video MediaPad terbilang sedikit lambat. Sebuah kontradiksi yang sangat disayangkan.

Huawei belum mengungkapkan berapa banderol yang akan mereka tetapkan untuk MediaPad. Namun mengingat beberapa kelemahan di atas, Huawei agaknya harus berpikir ulang jika berencana menempatkan MediaPad dalam lini premiumnya.

sumber : okezone jagatreview

Selasa, 02 Agustus 2011

Huawei Hadirkan Ponsel Cloud Computing

Sebuah terobosan baru dihadirkan Huawei Technologies dalam mengembangkan ponsel. Vendor asal China itu, siap merilis ponsel berbasis cloud computing ke pasaran.

Huawei mengatakan ponsel cloud computing ini akan mampu mendorong penetrasi ponsel berbiaya murah namun tetap berkualitas. Selain itu juga kehadiran ponsel ini akan menutup jarak antara Huawei dengan Apple dan Samsung di pasar ponsel cerdas.

Dilansir melalui Times of India, Rabu (3/8/2011), ponsel cloud computing ini cara kerjanya tidak berbeda jauh dengan komputasi awan yang diadopsi di komputer. Pengguna ponsel cloud computing milik Huawei ini dapat mengunduh aplikasi tanpa harus menyimpannya di memori khusus karena akan tersimpan di awan.

Huawei sendiri selama ini dikenal sebagai perusahaan yang mensasar untuk segmen menengah ke bawah, yang berfokus pada produk consumer seperti ponsel cerdas, tablet, dan modem. Kontribusi produk tersebut bahkan mencapai 17 persen dari total keuntungan.

Menurut data, pada bulan Juli Huawei berhasil mengapalkan 20 juta smartphone, melampaui harapan dari target sebelumnya yang hanya 12 sampai 15 juta unit. Hal ini yang mendorong Huawei menjadi produsen ponsel nomor tiga terbesar di dunia.

Belum diketahui secara terperinci spesifikasi khusus mengenai ponsel cloud computing ini, termasuk berapa harga yang akan dibanderol. Tanggal peluncurannya pun masih belum jelas, termasu negara mana saja yang akan disambangi.


sumber : okezone

Senin, 01 Agustus 2011

Wintek Memasok untuk Produk Tablet Asus

Sebuah sumber menyatakan bahwa Wintek, sebuah perusahaan di Taiwan telah menjadi pemasok kedua untuk panel layar sentuh yang akan digunakan untuk generasi kedua tablet Eee Pad Transformer. Model kedua ini akan diperkenalkan Asustek Computer pada oktober 2011.

Mengingat booming penjualan untuk tablet generasi pertama Eee Pad Transformer yang berlayar 10,1 inch. Oleh karena itu Asustek memilih pemasok yang berkualitas untuk mendukung pembuatan tablet generasi kedua-nya. Pemasok yang dipilih adalah Wintek, untuk memasok panel layar sentuh. Sebelumnya Asustek telah menjalin kerjasama dengan HannStar Display untuk memasok sensor layar sentuh. Sensor layar sentuh ini kemudian ditambahkan ke panel layar sentuh oleh Sintek Photronic, kata sebuah sumber.

Wintek akan mulai memasok panel layar sentuh ini pertengahan kuartal ketiga tahun ini dan di akhir kuartal untuk melunasi seluruh pesanan Asustek, kata sumber yang ditunjuk perusahaan.

Asustek kemungkinan dapat membuat 400 ribu tablet Eee Pad Transformer  pada kuartal kedua tahun 2011 ini, dan kemungkinan bertambah satu juta unit pada kuartal ketiga.

Twitter Berbahasa Indonesia

Jejaring sosial Twitter meluncurkan edisi Bahasa Indonesia. Dengan demikian, saat ini Twitter menjadi jejaring sosial yang tersedia dalam 11 layanan bahasa.

Seperti dikutip dari blog Twitter, peluncuran Twitter edisi bahasa Indonesia ini diluncurkan bersamaan dengan Twitter edisi bahasa Belanda.

Adapun, proses penerjamahan dilakukan oleh komunitas sukarelawan melalui fitur Translation Center (pusat terjemahan) yang dimiliki Twitter. Fitur ini sendiri sudah beroperasi sejak awal tahun ini.

Sukarelawan itu akan menerjemahkan sejumlah laman di twitter.com. Antara lain, support pages (laman pendukung atau help), desktop, dan aplikasi mobile. Terjemahan tidak akan dilakukan pada tweets.

Kemudian, sejumlah penerjemah aktif akan bekerja lebih intens dalam sebuah tim untuk mengelola layanan. Sehingga, layanan ini bisa lebih bersifat lokal.

Setidaknya, menurut blog Twitter, terdapat 200.000 penerjemah sejak Translation Center berjalan. Adapun, Twitter mengajak komunitas penerjemah melalui tweet di akun @translator (dengan 228.998 followers yang juga ikut menjadi penerjemah). Dari proses ajakan awal hingga diluncurkan, Twitter hanya membutuhkan waktu satu bulan.

Awalnya, Twitter membuka layanan edisi bahasa Jepang, pada April 2008. Kemudian, pada November 2009. Twitter meluncurkan edisi kedua dan ketiga, yaitu bahasa Spanyol dan Perancis.

Berikutnya, Twitter akan menambah layanan bahasa Filipina (Tagalog) dan Melayu. Tweeps pun diajak berkontribusi untuk menerjemahkan ke dua bahasa tersebut, melalui layanan Translation Center.

sumber : vivanews

Minggu, 31 Juli 2011

Situs Pengukur Kepopuleran di Blog atau Twitter

Berminat mengetahui tingkat influence atau pengaruhmu di Twitter dan blog? Perangkat bernama TweetLevel dan BlogLevel yang dikembangkan perusahaan PR Edelman bisa membantu Anda. Cukup dengan membuka alamat situs web http://tweetlevel.edelman.com dan mengetik nama akun Twitter di kolom yang tersedia, dalam 30 detik hasil analisis akan diperoleh. Perangkat ini juga bisa digunakan untuk mengukur pengaruh pemilik akun lain.

Tak perlu pesimis dulu jika follower sedikit sebab fakta membuktikan bahwa jumlah follower tak selalu sebanding dengan pengaruh yang diciptakan. Ada 4 hal yang ditunjukkan dalam score, influence, popularity, engagement, dan trust. Popularitas mengukur dari jumlah follower, engagement, dari keterlibatan pemilik akun dan follower-nya, sementara trust mengukur kepercayaan terhadap si pemilik akun Twitter.
"Berbeda dengan layanan sejenis yang mungkin hanya mengukur tingkat pengaruh berdasar jumlah follower, TweetLevel mempertimbangkan aspek-aspek lain," kata Deden Purnamadi, Manager Edelman Digital saat memperkenalkan Tweetlevel 2.0, Kamis (28/7/2011) lalu di Jakarta.

Beberapa aspek lain yang dilihat adalah jumlah orang yang di-follow, rasio follower dan following, jumlah total update dalam 30 hari, update dalam jangka waktu tertentu, jumlah retweet dan mention. Semua diolah dengan formula tertentu yang bisa dilihat di TweetLevel.
Selain meluncurkan TweetLevel, Edelman juga meluncurkan BlogLevel, perangkat mirip yang digunakan untuk mengukur influence blog Anda. Cara mengetahui pengaruh pun sama, tinggal masukkan akun dan segera hasil bisa dilihat.

Aspek-aspek yang dilihat untuk mengukur pengaruh blog tertentu ialah kemudahan blog dicari di mesin pencari, banyaknya link blog yang disebarkan di blog lain serta banyaknya konten blog yang dibahas di media sosial.
Baik TweetLevel dan BlogLevel memiliki beberapa kelebihan. Keduanya menggunakan algaritma dan 40 metrik yang berbeda serta mampu membedakan antara orang-orang yang menggagas ide orisinal dan orang yang menyebarkan ide tersebut.

Sementara itu, BlogLevel juga memperhitungkan diskusi di platform media sosial lain dan SEO (Search engine Optimization). Tak seperti perangkat lain, BlogLevel membuat peringkat pentingnya sesuatu menurut banyaknya posting yang dibahas di Twitter dan dioptimalkan di search engine.
TweetLevel memberi peringkat lebih tinggi pada orang-orang yang terlibat percakapan dan mengirim konten yang relevan darpada pandangan pribadi. TweetLevel juga bisa digunakan untuk mencari pemlik akun yang paling berpeangaruh dalam topik tertentu saja.

"Mengetahui siapa blogger dan tweeps yang berpengaruh dan memahami siapa saja yang mempengaruhi mereka akan membantu kita dalam merencanakan dan mengukur kampanye efektif dan memberi informasi intelijen pada klien kita," kata Nanda Inevs, Indopacific Edelman Digital Director.
Sementara, bagi industri, kata nanda, tweetLevel bisa membantu memilih orang yang tepat untuk mengkomunikasikan brand-nya. "Sebab jika hanya asal pilih yang populer tapi ternyata tidak tahu tentang brand, ini percuma. Hanya akan menjadi seperti advertising," katanya.
Bagi pribadi, pastinya perangkat ini bisa dipakai untuk mengukur pengaruh. Tentu terbuka kemungkinan untuk meningkatkan pengaruh dalam topik yang diinginkan. Setelahnya, mungkin mau menjual tweet seperti yang dilakukan beberapa selebritis atau selebblog?

sumber : kompas tekno